Catatan yang Pernah Kutulis | |
Aku tidak tahu banyak tentang bunga sehingga semua bunga tampak indah di mataku. Sampai suatu saat aku menemukan bungai parang, semacam bunga tetapi bisa berbicara. "Impalkeja," ujar bunga itu suatu saat.
Awalnya membaca status Akh Royan tentang hafidz (penghafal Al Quran) yang tetap galau jika makna AlQuran tidak sampai ke hatinya. Hal ini kujadikan diskusi (twit) dengan ami @tedy_js yang menanggapi: kalau hafidz saja bisa galau, apalagi yang awam ya? Ami Tedy mengumpamakan resonansi. Bukankah seharusnya hati para hafidz seharusnya lebih mudah tersentuh oleh Al Quran? Aku jadi merenung. Teorinya, ami Tedi benar bahwa hafidz seharusya lebih mudah teresonansi. Kenyataannya, hafidz dan awam bisa sama-sama tidak connect jika dada mereka sama-sama kosong dari iman. Tanpa iman, hafidz dan awam hanya berbeda bahasa. Tanpa iman, lagu yang dinyanyikan mendiang Whitney Houston bisa lebih berkesan daripada senandung syahdu para hafidz. Bicara tentang resonansi, berarti bicara tentang frekuensi iman. Seorang muallaf yang beriman bisa saja menjadi mujahid yang lebih dicintai Allah meskipun hafalan Al Fatihahnya masih terbata-bata, sementara seorang hafidz tanpa iman tidak teresonansi oleh undangan tahajud bahkan adzan Subuh sekalipun (na’udzubillaahi min dzaalika). Meskipun demikian, aku kemudian teringat pada dua macam alat musik. Yang satu gelas diisi air. Tanpa banyak uang, kita bisa mengisi beberapa gelas dengan air, lalu memperoleh nada-nada yang indah dari dentingnya. Gelas dan air yang praktis ini cocok menjadi perumpamaan orang awam yang bisa saja teresonansi iman padahal tidak pernah berupaya keras untuk menghafal Al Quran. Alat musik kedua adalah piano. Meski gelas berisi air bisa berdenting, fungsinya tidak bisa menggantikan piano. Katakanlah serangkaian gelas memiliki seluruh tangga nada yang ada pada sebuah piano, tetap saja orang hanya mau membayar mahal sebuah piano dan membayar murah untuk pengadaan gelas dan air tersebut. Artinya, meski imannya sama, Allah lebih menghargai dan meninggikan nilai para hafidz daripada awam. Subhaanallaah. Akh Royan dan Ami Tedi telah membuka mataku tentang beberapa hal: 1. Iman adalah pokok masalah, penentu kebaikan/keburukan seseorang. 2. Hafalan Al Quran meninggikan derajat seorang beriman. Upayanya menghafal sudah menjadi nilai lebih, demikian pula upayanya menjaga hafalan dan mengamalkannya. Keseluruhan upaya hafidz ini membuatnya jauh lebih utama daripada awam, meski sama-sama beriman. 3. Berarti poin pentingnya adalah: iman sebagai landasan, upaya keras menghayati Al Quran sebagai bukti kesungguhan cinta kepada Allah. Mari beriman, dan mari berusaha keras mendekatkan diri kepada Allah dengan Al Quran. (nunjuk hidung sendiri. jangan malas Min!) semula ditulis di http://aminyadi.wordpress.com/2012/02/19/hafidz-bisa-galau/
Orang bisa membaca Al Quran, Al Hadits, berbagai ilmu qauli maupun kauni, tetapi tdk semua orang bisa menjadi muslim.
Walaupun orang bebas mengaku sebagai muslim, pengakuan tanpa keyakinan tidak membedakannya dengan orang-orang kafir. Sama galau, sama ingkar dan sama kebenciannya kepada kebenaran.
Karena itu penting untuk merendahkan diri, menundukkan hati, lalu memohon sebuah password untuk menjadi muslim hakiki. Namanya hidayah. Petunjuk dari Allah, yang membuka hati dan menjadikannya hanya berorientasi kepada Allah.
Ya Allah, kami memohon petunjuk, ketakwaan, kesopanan diri dan kekayaan...
Allaahumma innii as alukal hudaa wat tuqaa wal 'afaafa wal ghinaa.
Anda muslim tapi masih galau? Segera PDKT (pendekatan) kepada Allah. Minta petunjuk. Insya Allah hati menjadi tenang dan teguh.
Aku punya beberapa akun. Di mp ini, di almarhum friendster dan mydeardiary, serta di twit dan fb.
Dua terakhir masih aktif. Aku ngetwit dan update status fb tiap hari, bahkan sehari bs lebih dr sekali. Tapi rasa2nya dari ketiga akun aktifku, yang paling 'aku' adalah akun mp. Dalam mp, aku merasa sangat bebas mencurahkan seluruh perasaanku. Apalagi sebelum mp jadi overkomersil spt sekarang. Benar2 mp jadi ajang curhat, curhat pribadiku maupun curhatan orang2 yang menyesakkan dadaku.
Hari ini, ketika salah satu momen berawal, kembali aku membuka mp ini. Sekedar untuk mencatat:
Pagi ini aku dalam travel Purnagama, dari kosku di Pengajaran, TBU, Bandarlampung menuju Bakauheni. Tidak ada yang istimewa. Angin sepoi menandakan ombak Selat Sunda tenang. Langit cerah pertanda tak kan turun hujan. Dan meski aku duduk di kursi depan, berimpitan bertiga dengan sopir, perjalanan ini terasa nyaman2 saja.
Yang tidak biasa adalah suasana hatiku. Aku sedang menghadapi ujian besar dimana hal terbaik yang harus kulakukan adalah pasrah. Sangat berlawanan dengan sifat kritisku yang menggebu-gebu, aku tahu bahwa kunci jawaban ujian ini adalah pasrah, menyerah dan berdamai dengan apa pun yg terjadi.
Hmmmh... Bismillaah saja lah. Meski sangat sulit, aku akan belajar menjadi 'guru'. Yang berhati tenang, tidak reaktif dan percaya penuh pada efektivitas hasil.
Bismillaah. (mohon maaf jika tulisan ini menyampahi layar gadget teman2 sekalian)
Ruang depan ini ingin kuisi dengan personal development versi Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam. Tentu saja tetap dalam format yang ringkas dan sederhana, sebagaimana keinginanku sejak awal membuat blog ini. Tema-tema yang ingin kutulis dalam ruang ini adalah seputar pelajaran yang bisa kita ambil dalam sebuah pembangunan pribadi yang pada gilirannya mencetak sebuah peradaban. Dengan tulisan yang sederhana dan mudah difahami awam, aku berharap dapat menambah sedikit ruang dalam dunia www ini. Kan tulisan-tulisan ilmiah dan panjang sudah banyak, jadi siapa tahu ada juga netter yang perlu tulisan sederhana dan singkat (kalau sampai ga sederhana dan singkat segera saja complain pls). Sebagian orang mengatakan bahwa pribadi Rasulullah saw adalah ‘satu-satunya’ pribadi paripurna, diatas tingkat sempurna, sehingga tidak mungkin dicontoh. Pendapat ini jelas dibantah Al Quran yang menyatakan bahwa asalkan kita memenuhi kriteria minimal (mengharapkan perjumpaan dengan Allah, merindukan hari akhir dan banyak mengingat Allah), kita pasti bisa meneladani beliau. Tentang hal ini bisa dilihat dalam Al Quran Surat Al Ahzaab 33: 21 yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak menyebut Allah.” (Al Quran Surat Al Ahzaab 33: 21) Ayat di atas menjelaskan bahwa salah satu tujuan diutusnya Rasulullah adalah agar kita memperoleh teladan hidup, semacam prototype yang nyata tentang kepribadian orang beriman. Sebagian lagi berpendapat bahwa Rasulullah saw adalah manusia biasa yang bisa mengembangkan kelebihannya sehingga bisa menjadi ‘salah satu’ tokoh besar dunia. Orang-orang ini sering mengkritisi kehidupan beliau secara berlebihan, mencari-cari kesalahannya dan menjadikannya sebagai obyek yang tidak sakral. Padahal dengan dimasukkannya iman kepada beliau dalam Rukun Iman dan pengkhususan syahadat kedua untuk beliau, otomatis segala hal tentangnya adalah sakral. Nah, dalam blog ini saya ingin mengajak pembaca (terutama pembaca teraktif: saya sendiri) untuk meneladani beliau dalam beberapa aspek yang ringan dan sederhana. Harapannya tentu saja agar kita bisa semakin dekat dengan keteladanan beliau, meskipun bahasa yang dipakai adalah bahasa social network dan blog yang ringan dan sederhana. Saya mulai penulisan ruang depan ini di masa-masa mendatang dengan: Bismillaahirrahmaanirrahiim…. (pengantar, inginnya ditulis terus dalam http://aminyadi.com/rasulullaah/
 | Mengurut | Jan 15, '12 3:34 AM for everyone |
Mengurut itu berat dan melelahkan. Meskipun mengurut bisa menghasilkan uang, aku tidak mau memilih pekerjaan sebagai tukang urut untuk profesiku. Selain tenaga yang dibutuhkan sangat besar, aku juga tidak suka mengurut orang lain. Eh, lagian mengapa aku membahas tentang urut-mengurut ya?
Yang kumaksud adalah menempatkan prioritas. Mana yang terpenting, mana yang kurang penting dan mana yang sama sekali tidak penting. Kelemahanku, aku sering tidak tahu urutan prioritas. Aku lebih sering terbuai oleh yang kurang penting danyang tidak penting sama sekali. Sehingga aku perlu kembali menulis di mp ini, untuk mengingatkan diriku sendiri.
Contoh urutan prioritas adalah ngempi (=ber-multiply), ngefbi (facebook-an), ngetwit (tweeting) dan semacamnya. Dia bisa menjadi penting, misalnya karena alasan dakwah, peningkatan potensi diri dan perolehan rezeki yang halal. Bisa juga menjadi kurang penting, misalnya karena hanya untuk mengisi waktu menunggu dokter mencabut gigi. Eh, Malaikat Maut mencabut nyawa. Bisa juga menjadi pekerjaan yang tidak penting bahkan menimbulkan kerusakan, misalnya gara-gara banyak ngempi lalu persahabatan putus (sahabat merasa di-cuekin), di-PHK dari pekerjaan (atasan merasa di-cuekin) apalagi jika sampai shalat ditinggalkan (berani sekali: cuek sama Allah!)
Oleh karena itu aku harus memahami masalah urut-mengurut. Bukan mengurut orang lain, tetapi mengurutkan prioritas diri sendiri. Eh, tambah prioritas keluarga. Juga masyarakat dan bangsa. Wah kok jadi pecah dan ribet nih. Yang benar: sangat penting bagiku untuk bisa mengurutkan prioritas diri, sehingga diriku, keluargaku, masyarakat di sekitarku dan bangsaku bisa memperoleh manfaat dari kelahiranku.
Yah waktunya habis. Terima kasih telah membaca blog ini, salam kangen buat semua pembaca.
.Didi.
Obsesi menulis buku membuatku hampir mata gelap. Aku menulis, menulis dan terus menulis seperti orang kesurupan. "Kalau hidupmu hanya berpindah-pindah antara keyboard dan teko kopi, saat itulah engkau menjadi penulis" Aku mengangguk. Hampir 100% benar. Ingin sekali aku memperhatikan kesehatan, waktu makan, istirahat dan sebagainya. Tetapi bahkan mengobrol dengan anakku pun, aku menemukan banyak kata mutiara dan perumpamaan yang terlalu sayang untuk tidak segera kutulis. (Meski tentu saja anakku selalu menang melawan magnet keyboardku). Beberapa kali aku menulis di facebook dan twitter tentang api atau bah tulisan yang meluap-luap, tak tertampung dalam novelku. Beberapa ditanggapi positif, beberapa didiamkan saja bahkan mungkin tidak terbaca orang-orang. Tetapi aku tidak peduli. Nyala api sekaligus luapan banjir kata dalam kepalaku tidak bisa kutahan-tahan. Andai bukan karena takut dibilang terlalu berpromosi, mungkin twitter dan facebookku akan menjadi banjir yang memenuhi newsfeed dan timeline teman-temanku. (Dan tentu saja aku mati-matian menahan diri agar hal itu tidak terjadi. Kita boleh meledak, tetapi usahakan jangan mengganggu orang lain). "Berapa lama yang kauperlukan untuk menulis dua ratus halaman novelmu?" aku pernah bertanya pada seorang penulis kawakan. "Sehari satu halaman." Ia menjawab sambil tersenyum. "Kalau yang lima puluh halaman di novel lainnya?" "Sehari seperempat halaman." "Lho, Bagaimana bisa begitu?" "Apanya yang bagaimana bisa begitu?" "Bagaimana kecepatanmu mengungkapkan isi hati bisa mencepat dan melambat?" Ia melirik kitab suci kecil di saku bajuku. "Berapa lama kautamatkan isi kitab sucimu itu?" Aku tersipu, kujawab lirih "Dua atau tiga bulan." Ia mengambil kitab suci berukuran besar di rak, meletakkannya menutupi buku catatanku yang hampir seukuran A4 di meja. "Kalau yang ini, berapa lama kau membacanya?" Aku agak heran. Baik ukuran besar maupun kecil, kecepatanku membaca kitab suci hampir sama. "Dua atau tiga bulan juga. Apa maksudmu membuat perbandingan ini?" Ia tersenyum, meletakkan dua buku masterpiece-nya di hadapanku. Yang satu dua ratus halaman, yang satu lima puluh. "Buku ini adalah hatiku, hidupku, isi benakku. Aku tidak menulis buku untuk dijual. Aku menulis buku untuk diriku sendiri. Ketika menulis, yang terbayang adalah kepuasanku sendiri. Untuk menghasilkan satu halaman yang kusukai, aku menulis banyak halaman buruk dan gagal yang kubuang setelah kubaca ulang. Akhirnya sama saja, menulis dua ratus halaman dan lima puluh halaman ini sama-sama memakan waktu kira-kira enam atau tujuh bulan... sekitar dua ratus hari." Aku terpana. "Apakah itu tidak menyita habis waktumu...?" "Aku penulis, aku seniman. Menulis adalah hidupku, ibadahku. Tiap hurufku senilai tarikan atau hembus nafasku. Atau aliran darah dan degup jantungku. Titik koma dan spasinya ibarat wirid dan dzikir lisanku. Buku ini adalah hidup dan ibadahku...." Ia melirik jam tangannya, kemudian mengemasi dua bukunya. "Aku pergi dulu ya? Ada janji." "Boleh kautinggal buku yang lima puluh halaman? Aku belum memilikinya." Ia melihat ke halaman terakhir, kemudian menyebut harga yang tercantum disana. "Bisa kamu bayar?" "Hah!" aku membuka dompetku untuk membayar, sambil berkata seperti menggerutu. "Bahkan untuk seorang teman pun kamu masih jualan. Tadi kamu bilang kamu tidak menulis untuk jualan...." Ia tersenyum lagi. "Aku menulis untuk diriku. Tetapi aku juga menjual buku yang sudah jadi. Agar aku bisa menulis lagi dengan tenang, menulis untuk diriku saja bukan untuk dijual kepada orang lain..." Tuing-tuing. (Akhirnya promo juga di multiply... Ustadz Super Gaul ( #USGA_Book) benar-benar seperti kanker otak yang terlalu memusingkan kalau tidak segera dituangkan...)
Tanpa terasa usiaku sudah 39 lebih. Setahun lagi aku harus begin my life.
Kalau Nabi saw disiapkan Allah sejak kecil dalam satu jalan lurus, kita (maksudnya aku) diberi banyak jalan dan cabang di masa lalu. Katakan ada 100 jalan, hanya satu yang menuju sukses; keridhaan Allah. Karena itu aku harus memilih.
Sempat khawatir apakah aku belum terlambat memilih jalan ini. Kalau menengok masa lalu, sudah 39 tahun di berbagai jalan, sekarang mau berubah haluan. Apakah aman? Apa efektif? Apa bisa? Masa lalu membuatku cemas.
Aku kemudian menengok ke depan. Entah sedetik lagi, entah seabad lagi, aku masih diberi hidup. Berarti aku masih bisa mengisinya dengan apa pun.
Mau galau di sisa hidup? Mau sukses dgn berbagai indikatornya? Mau bahagia? Mau pura-pura bahagia tapi nangis batin? Semua ada di tanganku, dan tergantung pilihanku saat ini.
Alhamdulillaah, aku bersyukur. Ia memberiku kehendak bebas, fasilitas cukup, organ yang lengkap, kesehatan, kecerdasan, akal, hubungan baik dan cinta.
So, aku memilih jalan ini. Bersama siapa pun yang sejalan, bertoleransi dengan yang berbeda pilihan.
Tiada kata terlambat untuk memilih jalan. Tiada kata terlalu cepat untuk memutuskan. Ukurannya bukan usia yang telah lewat melainkan usia yang tersisa.
Me... My way... No others.
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
(firs blog by n2730c)
Mentari menyembul. Senyum dikit sambil mengibas-kibaskan semburat gondrongnya ke sekeliling.
"Hai," sapanya usil,"Lagi ngapain?"
"Lagi pusing," jawabku sekenanya.
"Halah. Aku yang urusannya jauh lebih besar darimu saja ga pusing. Ngapain pusing buat urusan-urusan remeh?" tanyanya sok.
"Wew. Bedalah. Aku punya otak!" aku agak senewen.
"Nah udah tahu punya otak. Ngapain cuman dibawa pusing???"
Aku mendongak. Mentari masih mengibas-kibaskan semburatnya. Aku lalu tertawa. Dia benar. Urusanku sepele dan aku dibekali otak. Kenapa pusing?
(udah. mari dzikir lagi)
Alfa pernah berpendapat bahwa seorang aktivis pasti bisa multitasking. Bahkan hampir-hampir ia punya keyakinan bahwa ukuran aktifitas seseorang dapat dilihat dari seberapa banyak tugas yang bisa dikerjakannya di satu waktu.
Tetapi hari ini Alfa benar-benar jengah. Tumpukan tugas yang menjadi satu hampir-hampir membuatnya lari dari semuanya sekaligus. Ia tidak bisa berfikir, misalnya, dari empat tugas itu minimal tiga; atau satu juga gapapa, bisa selesai dengan baik.
Lalu Alfa menyesal. Mengapa mengabaikan nasihat yang sudah lama didengarnya: untuk fokus kepada satu masalah saja pada suatu waktu? Mengapa memaksakan diri melakukan banyak hal dalam deadline yang sama? Apalagi ketika ia teringat bahwa salah satu tugasnya stuck karena ia tidak menyegerakannya. Meski ada faktor orang lain yang membuatnya tidak mengerjakan tugas itu dengan segera, ia tetap merasa sesak ketika harus menghadapi banyak tugas dan banyak complainer. Bahkan sampai-sampai ia hampir memutuskan untuk mengambil semua tugas orang lain tersebut lalu mengerjakannya sendiri saja; sesuatu yang ia yakini mudah dan bisa selesai satu malam daripada harus berlarut-larut sampai beberapa pekan hampir beberapa bulan.... Tentu saja keputusan yang segera diralatnya sendiri karena itu merupakan penghancuran ruhul jama'ah... the substance of teamwork...
Hari ini Alfa benar-benar jengah. Rasanya mau lari saja. Atau mau bekerja sampai larut malam asal tugasnya selesai. Sebuah solusi yang buruk, karena tugas tidak akan pernah selesai selama kita masih hidup di dunia.
Alfa, nasihatku, biasakanlah fokus menyelesaikan sebuah tugas dengan tuntas. Boleh saja sambil mengerjakan yang lain, selama tidak dalam prioritas dan deadline yang sama... Tapi yang paling baik memang fokus ke satu pekerjaan saja lah.
Activist tidak hanya harus mengerjakan banyak hal. Ia juga harus menuntaskan hal-hal yang menjadi amanahnya. Dengan baik... kalau bisa sempurna sehingga malaikat pun sampai-sampai memuji-mujinya di hadapan para makhluk langit sana....
Jangan mengerjakan banyak tugas yang berakhir semuanya berantakan.... Jangan seperti Alfa hari ini, yang duduk jengah menyesali diri.
End. [anakku lagi suka becanda: gue. elu. end]
 | Insomnia | May 23, '11 1:52 PM for everyone |
 Insomnia is a gift, though not every gift is blessing I have insomnia, but insomnia didn't have me Baca-baca wikipedia, ternyata selain stress dan berbagai gangguan fisik, bisa jadi sulit tidur itu bukan penyakit. Hanya fenomena normal orang yang menua :) Ini gambar dari wikipedia, mudah-mudahan aku tidak dituntut karena memampangnya disini. Tujuanku memampangnya hanya untuk mengingatkan sebuah fase hidup dimana aku sering susah tidur... dan sebagai orang beriman aku harus percaya bahwa itu adalah takdir... (takdir yang datang karena ulahku sendiri?) Agk susah menuliskannya, tetapi aku yakin bahwa semua yang diberikan Allah padaku, saampai sat ini, selalu yang terbaik. Insya Allah selalu demikian sampai kapan pun, aamiin...
Lelaki tua itu menelan tombol-tombol hpnya.
"Mungkin kau benar. Aku perlu seorang teman..."
Di kejauhan, di sebuah kamar tidur temaram, seorang lelaki lain terbangun. Hpnya berbunyi. Dilihatnya jam di dinding menunjuk angka 2 dini hari. Pasti telepon penting...
"Oh ya... ya... aku segera datang... Oh, jauh sekali? Ya... Ya... Aku sampai 20 menit lagi..."
Dan pria itu, sebut saja B, segera memacu kendaraannya menembus malam.
***
"Kau bisa menumpahkan semua masalahmu kepadaku," ujar B.
"Tanpa solusi kan?" A mendesah.
"Aku akan membantu sebisaku. Tetapi kamulah yang harus memainkan peran terpenting. Juga terbanyak. Ini masalahmu, hanya kamu yang bisa menyelesaikannya. Aku membantu. Lebih banyak menjadi tempat menumpahkan perasaanmu. Agar kau tenang, agar kau kembali tegar. Lalu kauhadapi kembali masalahmu dengan persiapan yang lebih baik..."
"Lebih fokus, efektif dan sistematik?" A bertanya.
"Semua itu bisa berjalan kalau kamu tenang, A. Makanya lepaskan semua belenggu di benakmu. Buang semua sampah di hatimu. Kalau perlu menangislah di pundakku. Agar kau tenang, lalu kau kembali menghadapi masalahmu..."
"Sendiri?"
"Ya. Untuk masalahmu, harus kamu sendiri. Tepatnya bersama Allah, tetapi tanpa aku dan siapa pun lainnya. Tiap masalah punya karakteristik. Untuk masalah yang lampau, aku dan teman-teman memang harus ikut turun tangan. Untuk masalah ini, kehadiran kami hanya menambah runyam dan memperluas area persengketaan..."
Mereka kemudian terlibat pembicaraan yang serius...
Kokok ayam jantan terdengar di kejauhan. B melihat jam tangannya, sudah lewat dari angka empat...
"Sekarang kita pulang. Aku bisa mengantarmu ke Masjid An Nashr. Kita shalat Subuh disana," ujar B.
"Terima kasih. Aku membawa kendaraan juga," ujar A. Wajahnya telah bersinar kembali, meski kantuk jelas membayang, "Suatu saat aku harus membeli pundakmu, B."
"Hahaha... Pundakku punya dua sisi. Dengan persahabatan, kau akan membeli sisi positifnya yang penuh solusi. Dengan uang, kamu hanya membeli pundak yang penuh masalah..."
:D :! :D :!
Mereka tertawa bersamaan.
Wus-wus-wussshhhh.... ciat-ciatt-ciaattttt.....
Ajian pertama bernama ta'awwudz. Bisa menangkal, mengusir, menaklukkan maupun melindungi diri dari musuh terbesar: syaithan.
"Halah. Kayak sinetron. Ustadznya bisa terbang dan lompat ke awan yak..."
"O tidak bisaaa... Justru ajian pertama ini sangat hebat sehingga tanpa perlu lompat dan sebagainya setan langsung takluk."
Buanglah segala tolak bala, tolak miskin, tolak api, apalagi tolak cinta dan tolak kasih sayang... ganti dengan sering-sering melafadzkan ta'awwudz...
Hupsss....
Dan ajian kedua adalah ajian basmalah.
Dengan Basmalah, segala penyakit dan cacat hilang sirna. Menjelmalah hati menjadi putih bersinar, mengkilap berkilauan. Niat menjadi ikhlas, dan semua nafsu-tamak-dendam-serakah-syirik-munafik lebur.... dalam satu fokus yang damai dan tenang... Allah... Allaah...
"Uh. Berkhasiat apa saja nih bismillaah?"
"Super banyak. Karena semua tindakan yang dimulai bismillaah sekejap berubah menjadi ibadah... mendekatkan diri kepada Yang Maha Mulia, Yang Maha Perkasa, Yang Mahakaya, Pengasih, Penyayang...."
Bayangkanlah logam mulia yang bersih dan bersinar bekilauan... Ia kuat, ia mempesona, ia sangat berharga, ia tak tergantikan.... Bismillaah....
Dan ajian ketiga adalah hamdalah....
Setelah bisa menaklukkan setan.
Setelah bisa menjadikan diri mulia.
Kemudian tunduk... tunduk.... merendah.... bersimpuh..... mengakui: 'segala puji, segala kemuliaan, segala kehebatan, segalanya.... hanyalah milik Allah.... bahkan segala kemampuan kita pun sekedar pinjaman dari setitik kecil anugerah-Nya.... sehingga tidak layak menyombongkan diri, tidak layak merasa bangga, tidak layak merasa sedikit pun eksistensi....
Diri ini adalah tidak ada apa-apanya....
Apa pun pujian orang, segala puji hanyalah tertuju pada Allah....
---------------
"Hanya tiga jurus? Bukannya masih ada lima lagi dari bagian tujuh kunci kitab suci? Delapan dengan jabaran ta'awudz di awalnya?"
"Kerja lagi! Cukup tiga dulu. Jangan lupa bismi....?"
"Llaaah....."
--cut--
Hari ini seorang ikhwah dari UK (sebut saja R, Rad*es) mengingatkanku tentang kerendahan hati. Aku adalah seorang yang punya bakat arogan dan sewenang-wenang, sehingga ketika beliau menyebut tentang kerendahan hati aku sangat tersentuh.
Dalam hadits disebut tentang tawadhu' (rendah hati):
"Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu‘ kecuali Allah pasti mengangkat (derajatnya)." (HR Muslim)
Berarti kalau aku ganteng, kaya, sukses dan berkedudukan tinggi lalu selalu rendah hati, niscaya Allah akan semakin mengangkat derajatku.
Sebaliknya kalau aku jelek, miskin, loser dan cuman punya kedudukan ndeprok (bersimpuh di lantai) tapi rendah hati, sebentar lagi aku akan jadi cakep, kaya, sukses dst dsb.... minimal di akhirat.
Ups.
Minimal di A K H I R A T ? ? ? ?
Kenapa sampai akhirat dianggap minimal yaa?
Astaghfirullaah... padahal apakah yang lebih penting daripada pencapaian tujuan, dan tujuan apa yang lebih besar daripada sukses akhirat?
Wah benar-benar lagi mumet nih. Mau nulis tentang kerendahan hati malah jadi kesana kemari.
Mudah-mudahan kita bisa rendah hati, biar derajat di sisi Allah makin tinggi. Insya Allah kalau derajat disisi Allah tinggi, derajat di hadapan makhluk tidak perlu diragukan lagi...
Billaahittaufiq wal hidayah...
"Mbaaah... tolong Mbaaaaah... Copin sedang patah hati Mbah.... Duuuhhh..... " ratapan Copin membuat Mbah Amijan merelakan sebagian dzikirnya tidak dilanjutkan. Dengan wajah geli ia menoleh kepada cucunya yang sudah kuliah tetapi masih suka merengek seperti ketika di taman kanak-kanak dahulu. "Whe Lah. Kenapa hatimu sampai patah Cucu? Terbentur tiang atau kena gergaji listrik? Lain kali kalau main ya mbok yang hati-hati..." Mbah Ami berkata masih dengan nada geli. "Aaaaah... Embah bukannya empatik sama penderitaan Copin malah nggodain... Sebel..." "Sini Le... mendekatlah kepada Embah... Biar Embah dengarkan semua keluhanmu, biar Embah pikul sebagian bebanmu dan biar Embah singkirkan sebagian penghalang jalanmu..." Copin mendekati embahnya, menyandarkan kepalanya ke pangkuannya. Lalu ceritanya pun mengalir... tentang Juliet yang telah menawan hatinya, tentang semua ketololan yang dilakukannya untuk mendekatinya, dan tentang semua kegagalan langkah-langkahnya. Si Embah hanya manggut-manggut sambil sesekali menyela dengan "oooh...", "maksudnya...?" dan beberapa gong yang membuat Copin semakin bersemangat untuk curhat. Sampai habis-bis-bis-bis semua gundah di hatinya.... "Jadi begitu Mbah... Copin gagal membuat Juliet mengerti betapa Copin sangat mencintainya dan tidak bisa berpisah dengannya...." "Wheladhalah... Terus kamu butuh nasihatku Cucuku Sayang...?" "Engga usah Mbah. Embah engga usah ngasih nasihat apa-apa. Biarin hati Copin tetap gelisah dan mengharapkannya... Jangan bicara tentang hubungan dengan lawan jenis, jangan bercerita tentang nabi-nabi atau orang soleh... Copin masih muda Mbah... Biarkan Copin tetap begini...." Embah Amijan mengelus-elus kepala cucunya. Cucu yang dirawatnya sejak umur tiga tahun, sejak ayah dan ibunya berpisah setelah perdebatan yang luar biasa sengitnya. Ia tidak bisa memahami mengapa cucunya tidak lagi mau mendengar nasihatnya, tetapi ia juga tidak merasa perlu menasihati macam-macam; apabila nasihatnya hanya akan dianggap angin lalu atau justru membuat cucunya tidak lagi mau terbuka kepadanya... ***** Cangkir di hadapan Mbah Amijan masih mengepulkan uap dan aroma kopi yang segar. Aroma kopi tumbuk dari kebun sendiri, yang shangrai sendiri, lalu ditumbuk sendiri oleh Mbah Amijan yang hidup sebatang kara. Tanpa merek, tanpa masa expired. Fresh from lumpang, nama tempat untuk menumbuk kopi-kopi itu. Copin menggosok-gosok rambutnya yang basah sehabis mandi. Hanya mengenakan celana selutut, bertelanjang dada, ia duduk di hadapan Embahnya. "Embah pernah gelisah Mbah...?" Copin bertanya sambil menyeruput sedikit kopi dari cangkir Embahnya. "Hehehe... Embah ini orang yang lebih lama gelisahnya daripada tenangnya Cu... Kamu lihat sendiri kan, Embah sering tidak bisa tidur di waktu malam dan tidak bisa menikmati makanan ketika siang...?" "Segelisah itukah Mbah?" "Hehehe... iya... Sangat gelisah, jauh lebih gelisah daripada kegelisahanmu kemarin, ketika kamu sangat diresahkan oleh Julietmu itu..." "Emangnya Embah pernah jatuh cinta juga?" Copin bertanya, tetapi kemudian menjawabnya sendiri. "Eh kalau Embah engga pernah jatuh cinta pasti engga ada Copin yaaa?" "Hehehehe... " kekeh Mbah Amijan seperti tidak pernah habis. Setiap cucunya berkomentar, ia terus terkekeh-kekeh bahagia (Kamus Baru: 'terkekeh-kekeh bahagia'). Ia belum bercerita bahwa ayah atau ibu Copin sama sekali bukan keturunannya, dan sampai saat itu ia juga belum ingin menceritakannya. "Bisakah Embah menceritakan kegelisahan Embah? Sesekali Copin pengen tahu..." Tiba-tiba kekeh Mbah Amijan terhenti. Tangannya melambai mengajak Copin berbaring di pangkuannya, seperti kebiasaannya ketika akan mendongeng... **** "Kegelisahan itu muncul karena cinta. Ketika seseorang jatuh cinta, maka ia akan merasakan kegelisahan. Gelisah karena khawatir tidak bisa memperoleh yang dicintainya, gelisah karena takut yang dicintainya meninggalkannya, gelisah karena malu telah mendustai kekasihnya, atau gelisah karena merasa tidak bisa memberikan yang terbaik kepadanya...
Tetapi di atas itu semua, ada kegelisahan yang paling tinggi: kalau ia tahu bahwa yang dicintainya sangat pencemburu. Kalau ia tahu bahwa yang dicintainya mencintainya dengan penuh, tetapi juga akan meninggalkannya dengan penuh untuk kesalahan yang dilakukannya. Bahkan yang dicintainya akan menyiksanya, membakarnya jika ia berani berkhianat kepadanya...."
Wajah Copin menegang. Ia seperti sedang mendengarkan cerita seram, atau menonton film horor yang dikemas apik*.
"Para sahabat Nabi saw memberi kita teladan tentang cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. Bukan hanya mencintai ajaran dan akhlaknya. Mereka sampai berebut mengumpulkan cucuran keringatnya, potongan rambut atau yang rontoknya, atau air bekas wudhunya. Untuk mengambil berkahnya, dan lebih dari itu: untuk memuaskan dahaga cinta mereka kepadanya, semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan baginya..." suara Embah memelan. Bulir-bulir bening tampak membasahi ujung matanya...
Copin menunggu. Embahnya melanjutkan, "Kemudian bertemulah kita kepada Ibunda Siti 'Aisyah, semoga Allah selalu meridhoinya. Ibunda 'Aisyah dituduh melakukan perbuatan tidak terpuji, dan Kanjeng Nabi saw termakan oleh tuduhan yang santer diberitakan masyarakat luas tersebut. Hanya karena keluhuran dan ketinggian budi pekerti maka Kanjeng Nabi tidak marah atau berkata keras. Hanya diam, diam setiap menjenguk isterinya tersebut.
Bagi 'Aisyah terasalah sangat beratnya diam Nabi tersebut. Akhirnya ia meminta dipulangkan ke rumah orang tuanya.
Dalam kegundahannya karena telah didiamkan oleh manusia paling mulia di dunia, 'Aisyah mengadu kepada Allah...."
Embah Ami berhenti bercerita sejenak. Jemarinya lembut membelai rambut cucunya yang masih terpana mendengarkan....
"Cucuku, cintailah Allah. Cintailah Ia dengan kecintaan yang membuatmu selalu gelisah. Kosongkan hatimu dari dunia ini. Kecamlah hatimu jika ia masih gelisah hanya oleh urusan-urusan dunia. Isikanlah ke dalamnya cinta yang paling suci, cinta kepada Ilahi... lalu dapatkanlah kegelisahan dalam ketenangan yang paling tinggi. Kegelisahan akan kedudukan dirimu disisiNya, yang dibungkus oleh ketenangan dan keberanian terhadap apa pun selain Nya.
Segala sesuatu selain-Nya adalah kecil
Segala sesuatu selain murka-Nya adalah ringan
dan segala sesuatu selain ridha-Nya adalah tidak berharga...."
Embah memelankan suaranya pada kalimat-kalimat terakhir. Ia menunduk, memandang wajah cucunya. Kemudian terkekeh-kekeh kembali.
"heheheheheeeee.... Dasar penidur. Kuberikan kepadamu hikmah paling tinggi, rahasia cinta paling suci... eeee malah ketiduran. Huh...."
Sang Embah kemudian membentangkan kedua tangannya, memondong cucunya ke dalam kamar.
Kuat ya? Embah tua masih bisa memondong cucunya kayak menggendong anak kecil saja. Rosa.... (jawa; baca: roso. artinya: kuat/perkasa)
_______________________________________________ * film horor yang dikemas apik bisa menjadi hiburan yang baik, tetapi film horor yang ngawur seperti tontonan di bioskop2 negeri ini telah membuat horor dan nyampah hampir tidak ada bedanya. Seharusnya kesan horor dalam film dikemas tanpa keluar dari jalur seni...
** Judul dan isi cukup nyambung apa engga si?
Alhamdulillaah... Nikmat dariMU sangat indah ya Allah... Kekalkanlah kami dalam nikmat ini, dan jadikan kami hamba-hamba yang bersaudara. Di jalan Mu. Bersama mengejar ridhaMU. Aamiin...
Menurut saya, pribadi yang menyenangkan adalah pribadi yang … mmm bagaimana ya? Agak susah juga sih membuat definisinya. Biasanya kalau pribadi yang menyenangkan itu ya terasa menyenangkan saja. Enak dan nyaman di dekatnya. Atau enak dan nyaman kalau bisa ngobrol (chat,sms, telp) dengannya. Jadi bingung juga nih ngasi pendapat tentang definisi pribadi yang menyenangkan.
Begini saja deh.
Menurut saya, pribadi yang menyenangkan itu seperti pohon. Pertama dia tumbuh terus, berarti dari hari ke hari selalu semakin berkembang dan semakin baik. Kedua dia kokoh, artinya dalam perkembangannya dia semakin matang dan bisa menaungi yang lain. Denger-denger, banyak lho orang yang semakin bertambah umur malah menjadi semakin kekanak-kanakan. Sampai pernah dengar juga ada yang bilang: “menikah itu untuk membina anak-anak, bukan untuk makin kekanak-kanakan” (hayoo… siapa tuh yang ngerasa…)
Ketiga dia selalu memberi. Bisa memberikan bayangannya untuk tempat berteduh, tempat curhat, bahkan bisa buat tempat (maaf) pipis. Untuk yang terakhir, pohonnya sih tidak keberatan. Tetapi kalau terlalu banyak yang melakukannya, lama-lama pohon itu jadi bau dan orang lain jadi malas mendekat. Pelajarannya: mungkin sih orang-orang tertentu bisa menjadi tempat curahan hati dan tumpahan perasaan (negatif) orang lain, tetapi kalau ia menampung terlalu banyak nanti malah bisa berakibat negatif. Mmmm… mungkin kalau jadi tempat curhat cukup buat beberapa orang saja, biar jadi sahabatan. Kalau sampai buka praktek komersiil, lama-lama bisa jadi ga tulus dan ga nyaman lagi.
Masih yang ketiga, ia juga bisa memberikan buahnya, bunganya, daunnya, batangnya, bahkan bisa seluruh dirinya. Artinya orang yang menyenangkan seharusnya bisa memberi manfaat, baik dengan hartanya, waktunya, pikirannya, maupun dengan seluruh diri jiwa dan raganya. Pohon itu kalau dilempari batu engga protes, malah dengan ikhlas ia kasihkan buahnya kepada anak-anak nakal yang melempar. Begitu juga orang yang baik; ia memahami bahwa dalam hidup ini selalu ada yang membenci, ada yang mengkritik, bahkan tidak jarang ada yang berusaha menjatuhkannya atau mencemarkan nama baiknya. Untuk semua itu, bersikap ikhlas sajalah. Allah lebih tahu siapa yang baik dan siapa yang buruk, jadi ga usah terlalu mengharap posisi di hadapan manusia. Juga selain ikhlas teruslah memberi manfaat, jangan sampai gara-gara orang benci kepada kita lalu kita tidak mau memberi manfaat lagi.
Pohon juga menghisap CO2 sembari melepaskan O2 (sok tau dot com). Artinya ia bisa mengolah apa-apa yang engga baik bagi orang lain, lalu membuatnya menjadi baik bagi orang tersebut.
Apakah itu cukup untuk menjelaskan pribadi yang menyenangkan?
Mmmm…. Sambil ngobrol saja deh kita bahas hal-hal lainnya. Misalnya:
1. Orang yang menyenangkan juga engga plin-plan. Konsisten dan bisa memegang prinsip/komitmen dengan kuat. Kalau bagi kita-kita yang muslim, sangat dituntut untuk terbiasa kuat berprinsip “laa ilaaha illallaah.” Kalau dibahas, laa ilaaha illallaah ini sangat luas dan bisa menjadi solusi hampir dari semua masalah. Orang yang laailaaha illallaah-nya benar pasti menjadi orang baik karena laailaaha illallaah bukan sekedar pengetahuan tentang Tuhan.
2. Pernah ada orang yang sangat pandai bicara, tetapi orang-orang malah tidak suka kalau ia datang. Kayaknya ini menjadi kabar gembira deh bagi orang-orang yang pendiam dan merasa kesulitan berbicara. Bahwa: bicara adalah perak, diam adalah emas. Ups, tapi kalau teman kita diam banget juga kayaknya ga nyaman ya? Mmm… mungkin yang terbaik adalah ‘mendengarkan’. Emphatic listening-lah. Beri kesempatan orang lain bicara, sambil sesekali tanyain “kenapa begitu?”, “ooo… jadi begitu?”… “mmm… aneh juga ya…” dsb. Bahasa Jawanya: nge-gong-i. Biar orang yang ngajak bicara tambah semangat dan banyak mengeluarkan unek2nya. Enak kan kalau kita punya teman yang bisa buat curhat segala masalah tanpa menggurui apalagi mendoktrin kita?
Udah mulai pegel nih nulis. Tapi bahan mentahnya kira-kira:
3. Sopan santun
4. Memakai kata sapa dengan nama (bukan sekedar kamu, antum apalagi elu), karena kata terindah di dunia ini adalah ketika nama kita disebut. Hehehe… engga tau juga tuh kata siapa. Tapi boleh dicoba ko.
5. Jangan nyombong, rendah hati (humble) saja. Tapi juga ga usah minder. Ngobrol sama orang minder nge-bete-in, ngobrol sama orang sombong bikin pengen gampar. Ups….
6. Bisa menyikapi setiap masalah dengan sisi positif. Kan di Indonesia ini banyak orang miskin, banyak orang nganggur, banyak orang susah. Nah pribadi yang menyenangkan ini: meski sama-sama miskin, tetapi tetap menarik. Meski sama-sama diPHK, tetapi tetap bikin nyaman. Meski sama-sama lagi kesusahan, tapi tetap enak dijadikan teman. Memang kebahagiaan bukan karena aspek luar, melainkan dari aspek dalam (hati kita) kan?
7. Masih menyambung dari nomor 6: pribadi yang menyenangkan itu adalah pribadi yang sehat. Sama seperti orang sehat juga tetap sakit ketika dipukul, pedih ketika terluka, dan pusing ketika ga punya uang (yang terakhir kayaknya kasus ane saja ya?), pribadi yang sehat juga bisa sedih, ngiri, dan marah. Tetapi pribadi yang sehat ini tidak akan berlama-lama dalam kondisi negatif. Ga sampai ngiri berkepanjangan, frustrasi karena sedih, apalagi mendendam tujuh turunan. Cukup saat itu saja terbenak (maksudnya 'terbenam') ke dalam emosi negatif. Sebentar kemudian segera mengobati dirinya sendiri, lalu kembali sehat dan menyenangkan.
Udah ah. Cape. Udah siang juga. Wassalaamu’alaikum ww.
(Bahan begini rencananya insya Allah disampaikan entar sore kepada teman-teman di taman CD, mudah-mudahan selain pintar mereka juga jadi sholeh dan berakhlak mulia. Minimal menyenangkan rakyat yang sudah ngasi mereka bea siswa lah)
:)
 | Nyaman | Mar 20, '11 5:04 AM for everyone |
Nyaman itu merasa aman. Nyaman berarti (saling) percaya. Nyaman juga berarti enak, nikmat, senang... Dalam jangka panjang berarti bahagia.
Orang akan merasa nyaman kalau menerima dirinya sendiri, apa adanya. Ia berusaha berkembang menjadi lebih baik dalam kerangka dirinya sendiri. Meski meneladani orang lain, tetapi ia berangkat dari lingkarannya sendiri. Lingkaran yang selalu diperbaiki, diperkuat, dan tidak ketinggalan diperlebar ke segala penjuru.
Di pusat lingkaran ada prinsip utama. Bagi kami yang memilih Islam, pusat utama itu adalah syahadat suci. Bahwa tiada fokus hidup, tiada yang mendominasi, tiada ilaah kecuali Allah.
Pada masanya, lingkaran seseorang akan menyentuh, atau bahkan memasukkan lingkaran orang lain ke dalamnya. Mereka menyatu. Bisa karena akidah, bisa juga karena cinta. Lebih banyak menyatu karena kondisi, baik pekerjaan, kesamaan tempat tinggal dan sebagainya. Awalnya proses penyatuan ini akan menimbulkan guncangan-guncangan, tetapi sebagaimana kebiasaan manusia: sebentar kemudian akan tercapai kesetimbangan.
Kekuatan prinsip diuji: apakah akan meluntur, atau menjadi ekstrem, atau fleksibel.
[tetap belum rampung jugak]
Allah menciptakan manusia dengan perangkat yang lengkap. Ketika ia terlalu asyik dengan salah satunya, elemen perangkat lainnya akan memberi alarm tanda 'perlu difungsikan'.
Karena itulah bahagia tidak bisa dicapai sendiri. Harus ada bahagia karena melayani sesama, harus ada bahagia karena mengabdi kepada Sang Pencipta, selain bahagia karena telah memenuhi semua kebutuhan pribadi.
Tul ga.
Allah menciptakan kita, kemudian memberi kita sepetak lahan. Dalam lahan yang sangat luas itu kita bebas menanam, memetik, menggali, mengudara atau melakukan apa pun. Lahan itu bernama MUBAH, HALAL. Andai manusia terkaya berusaha menikmati semua yang mubah/halal itu, niscaya usianya habis sebelum semua yang halal itu dicicipinya.
Di pinggir-pinggir lahan itu dipasanglah pagar, bernama HARAM. Sebelum mencapai haram, dipasang pula pengaman-pengaman lembut bernama MAKRUH. Allah melarang kita melanggar batas haram. Kadang larangan itu bisa diterima logika manusia dengan jelas dan gamblang, tidak jarang pula larangan itu sangat sulit diterima logika. Tepatnya sulit diterima logika manusia sekarang, mungkin mudah diterima logika manusia masa datang atau bahkan masa lalu, wallaahu a'lam.
Di dalam lahan, manusia dilatih untuk menjalankan perintah WAJIB dan SUNNAH. Kebanyakan orang merasa perintah ini sebagai beban yang memberatkan. Tetapi anehnya, orang-orang yang taat menjalankan perintah dan menjauh dari pagar (haram dan makruh) justru hidup dengan efektif dan bahagia; selama ukurannya bukan 'hanya' materi. Sebaliknya orang-orang yang dengan lantang menyuarakan kebebasan dan berusaha mencari lahan di luar lahan yang disediakan Allah, lebih banyak menemui kegagalan. Banyak di antara mereka berlogika, berorasi dan bersilat lidah dengan gaya cerdas tetapi hakikatnya hanya seperti orang-orang kebingungan yang berputar-putar dari satu masalah ke masalah lainnya. (Bandingkan dengan orang-orang taat yang melompat-lompat dari satu solusi ke solusi lainnya).
Yah sayang waktu habis padahal masih pengen nulis banyak. Mudah-mudahan tidak mengecewakan pembaca. Mari kita saling tolong dan bantu untuk mensyukuri lahan yang diberikan, serta saling cegah dari mendekati pagar berduri yang dihias dengan warna-warni menawan...
Love you all Fii sabiilillaah... :)
| |